Salah siapa kalau aku seperti ini ... hehehehehe
Ya ... aku ibarat biji jagung dalam mesin pembuat popcorn. Meletup-letup mengejutkan semua orang bahkan kadang diriku sendiri.
1998 ... usiaku 18 tahun baru saja selesai sekolah lanjutan atas. Takdir membawaku hijrah di kota Cilegon untuk tinggal bersama ibuku.
Sejak itu kota kecil itu menjadi gelisah karena menerima kehadiranku "Kutu Loncat".
"Aku suka ini ... fantastik. Jika aku bisa menyelenggarakannya." Mulutku terus nyerocos mencoba menjelaskan apa yang ada di fikiran dan benakku saat ini. Sementara kawanku hanya diam entah mengerti atau tidak. Suka atau tidak aku tidak tahu. Hanya selintas ia mengatakan acuh tak acuh ... "Nggak mungkin, Ka."
"Ha ... lihat saja ...."
Bukan aku jika aku terus diam, aku cenderung meledak jika orang menganggap remeh kemampuanku. Ya, benar lihat saja.
Sejak itu aku seperti kerasukan mencari dan mempelajari bagaimana cara agar apa yang ada dalam fikiran dan benakku dapat terlaksana. Segala macam bentuk proposal kulahap, apa-apa yang kuperlukan mulai kubuat dalam catatan-catatanku. Yellow Pages menjadi akrab denganku. Segala penghalangku mulai kupikirkan untu mencari jalan mematahkannya. Hanya dua rintangan yang kuanggap paling berat : 1. Aku bukan anak orang kaya yang bisa minta uang orang tua untuk memenuhi keinginanku yang sedikit gila (hehehe) dan yang lebih kacau aku belum punya penghasilan sendiri. Dan ke 2. Aku perempuan (ha ... buat apa ada Kartini toh). Tapi aku punya dua senjata pula untuk mematahkannya, aku pandai melobi orang dan mendapatkan koneksi darinya. Lihat saja ...
Dengan segala hormat, urusan untuk mendapat dukungan dari RT, RW, Ketua Karang Taruna, Kelurahan, hingga mengundang para tetua KNPI untuk datang dan memberi dukungan, bahkan Walikota saat itu sudah membubuhi tanda tangan tanda turut mendukung segala kegiatanku, semua kudapat dengan mudah Alhamdulillah. (entah apa orang mulai bicara tentang aku saat itu, mudah-mudahan bukan gerah atas sepak terjangku). Entah itu dukungan atau bukan kurasa mereka hanya membiarkan dan tak mau menyakiti hatiku dengan memberi jalan (mudah-mudahan bukan karena aku perempuan pula). Dalam hati kecilku kadang membisik mereka pasti sedang menyangka aku cuma mimpi di siang bolong, peduli amat ...
Aku jalan terus ...
Aku mulai membuat brosur/pamflet yang mengumumkan bahwa akan diselenggarakan pagelaran musik. Buat pamflet pakai komputer ... ha ... sama sekali jauh dari jangkauan. Saat itu aku sama sekali tidak punya fasilitas untuk itu. maka mulailah aku menggunting koran dan majalah dan menempelkan pada kertas lainnya. Tapi dengan bangga kukatakan pamflet pertamaku itu (kukatakan pertama karena akan ada pamflet-pamflet berikutnya) paling kreatif yang pernah kubuat sepanjang hidupku. Semua kreatifitasku tertumpah padanya.
Orang-orang tua masih menganggapku mimpi di siang bolong. Tetapi pemimpi ini mulai ditemani banyak pemimpi-pemimpi lainnya. Jadilah kami sekelompok pemimpi yang siap mewujudkan mimpi. Pamfletku mulai tersebar di dua kota Cilegon dan Serang (bahkan sebagian melayang terbawa tangan-tangan lain sampai kota terdekat lainnya, karena pada daftar peserta pagelaran di kemudian hari tercatat nama kota lain). Dapat kulihat menempel di tembok-tembok toko, tiang listrik, halte bis, sebisanya menempel pasti sudah aku dan teman-temanku tempel.Setiap kali aku sengaja naik bis untuk melihat mereka tertempel aku tersenyum kegirangan seperti anak kecil dapat permen. Hanya saja pamflet kami dalam jumlah terbatas aku ingat 200 lembar pamflet pertama dan kami harus menunggu ada peserta mendaftar berikut baru kami perbanyak pamflet lagi. Semua dikerjkan merayap. Aku maju terus ...
Bersambung ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar